Wednesday, July 14, 2010

Cinta Laki-Laki Biasa Part 2

Setahun pernikahan.

 

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Cindy, apa sebenarnya yang dia lihat dari Arby. Jeleknya, Cindy masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Arby agar tampak di mata mereka.

 

Cindy hanya merasakan cinta begitu besar dari Arby, begitu besar hingga Cindy bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Cindy. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

 

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Arby pada Cindy.

 

Nada suara Cindy tegas, mantap, tanpa keraguan.

 

Ketiga saudara Cindy hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

 

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

 

Cindy merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Arby.

 

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

 

Tapi Arby juga tidak jelek, Kak!

Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

 

Arby juga pintar!

Tidak sepintarmu, Cindy.

 

Arby juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Cindy. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

 

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Arby. Lagi-lagi percuma.

 

Lihat hidupmu, Cindy. Lalu lihat Arby!

Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

 

Teganya kakak-kakak Cindy mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

 

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Cindy dan Arby sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Arby bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Cindy lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Cindy memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Cindy cukup, maksud Cindy jika digabungkan dengan gaji Abang.

 

Cindy tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

 

Sebaiknya Cindy tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Cindy dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Cindy cerah.

 

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

 

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Cindy. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

 

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Cindy di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Cindy besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Cindy memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

 

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Cindy dan Arby melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Cindy, bisik Papa dan Mama.

 

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.

Cantik ya? dan kaya!

 

Tak imbang!

 

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Cindy belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

 

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Cindy masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Cindy mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Arby melukai hati Cindy, atau membuat Cindy menangis.

7 comments:

waaahhh...kayak sinetron aja nh.... hehehe,
btw, salam kenal.....
*sambil nunggu lanjutan nya... :)

hehe...
salam kenal juga.
cerita fiktif kok..
*lain waktu dilanjutkan :D

hhhmmm....semoga benar-benar kenyataan:))

cm ngarang...
N msh bersambung...

saya doakan semoga menjadi kenyataan...aminnn

sy tdk mau jd kenyataan..
Krn bkn happy ending sepertinya..
Cm bwt dambil hikmahnya saja..
Tunggu ceritanya selesai dl ya br ddoain..
:) trima kasih kunjungannya.

Post a Comment