Tuesday, November 1, 2011

PERKEMBANGAN PETERNAKAN UNGGAS PETELUR DI INDONESIA

(tulisan yang dah berbulan-bulan digarap :D)

Di tengah tekanan yang menimpa berbagai sektor industri di Indonesia, sektor peternakan unggas tetap mampu bertahan. Industri peternakan unggas di Indonesia sepanjang 2010 lalu menunjukkan kinerja yang cukup bagus. Bahkan dalam tahun 2011 ketika krisis global yang belum berlalu dan ketika  terjadi penurunan daya beli yang kemudian mendorong substitusi pangan ke produk unggas, industri perunggasan masih mampu bertahan. Produk unggas yang tetap bertahan di tengah krisis adalah telur, yang termasuk sebagai protein hewani yang harganya relative lebih murah dibandingkan dengan harga daging sapi.

Walaupun demikian bukan berarti tidak ada masalah yang dihadapi industri  perunggasan penghasil telur. Berdasarkan pada masalah peternak ayam dalam menghadapi ketidakstabilan harga telur yang berlangsung sejak beberapa tahun lalu, kita melihat ada tiga penyebabnya yang perlu dicermati untuk memecahkan masalah tersebut. Masalah pertama adalah di beberapa waktu tertentu terjadinya kelebihan pasokan yang tidak diimbangi penyerapan pasar yang jelas, sebaliknya diwaktu yang lain pasokan telur berkurang sehingga harga telur naik. Kedua, rendahnya daya beli masyarakat Indonesia yang mengakibatkan kurangnya daya serap dan penigkatan produksi terhadap produk peternakan ini. Dan ketiga, terdesaknya pasar telur segar oleh telur olahan impor dalam bentuk tepung telur yang akhir-akhir ini banyak dimanfaatkan industri makanan dan perhotelan karena lebih praktis dan daya tahannya lebih lama. Apabila ketidakstabilan harga telur tidak cepat diantisipasi dengan menempuh langkah-langkah yang terencana dan dilakukan secara bersama, maka akan sulit bagi peternak untuk mempertahankan usaha yang sudah mereka geluti selama ini.

Langkah pertama yang harus ditempuh dan harus dilakukan bersama adalah mengorganisasikan dan melaksanakan promosi/kampanye gizi hasil unggas secara berkelanjutan. Selama ini sebagai bagian penting dari edukasi pasar, promosi/kampanye mengenai pentingnya mengonsumsi telur dan daging ayam untuk kesehatan dan kecerdasan nyaris tidak pernah dilakukan. Bandingkan dengan intensif dan maraknya promosi rokok, minuman penyegar, bumbu masak yang rajin muncul di media publik dalam rangka membina konsumen.

Langkah kedua, yang dalam jangka dekat ke depan harus didorong pencapaiannya adalah membangun industri tepung telur. Hal ini penting agar industri perunggasan di Indonesia,  khususnya peternakan ayam petelur, akan dapat berperan untuk meningkatkan penyerapan komoditas telur, menstabilkan harga telur, dan pasti akan mendorong peningkatan produksi telur. Pemerintah harus mengambil perannya yang aktif dalam upaya mewujudkan dibangun dan beroperasinya pabrik tepung telur baik dalam perannya sebagai pemberi/penyedia fasilitas maupun dalam peran pendampingan aspek bisnisnya, mengingat akan cukup pentingnya perangkat yang satu ini bagi keberlangsungan usaha perunggasan di Indonesia dan dengan demikian juga kepastian bagi peternak terbebas dari ancaman sulitnya pemasaran hasil peternakan. Peluang pun tersedia bagi investor asing maupun dalam negeri untuk masuk dan menstabilkan harga telur dan meningkatkan produksi telur sehingga menurunkan biaya produksi dan harga jual yang pasti akan menjamin berkembang sehatnya usaha budidaya ayam petelur.

Langkah ketiga adalah meningkatkan efisiensi dalam industri peternakan ayam petelur dan mendorong peningkatan kualitas produk telur yang dihasilkan. Salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas telur adalah dengan memanfaatkan kandang close house yang telah banyak digunakan pada ayam broiler. Penggunaan kandang close house untuk ayam petelur belum banyak berkembang di Indonesia. Kandang closed house adalah sebuah kandang yang digunakan untuk tempat hidup ayam selama masa pemeliharaan. Hanya saja sarana yang ada di dalam kandang tersebut seluruhnya menggunakan bahan yang serba modern dan otomatis tanpa banyak campur tangan manusia secara langsung. Aktivitas di dalam kandang tersebut memang hanya memberi pakan, memberi minum, menjaga kesehatan ayam, tetapi semua aktivitas ini dikerjakan oleh mesin secara otomatis yang dirancang sesuai dengan tujuan pemeliharaan itu. Di daerah Jawa Timur terdapat kandang closed house ayam petelur yang berisi ayam sebanyak 36.000 ekor dan 54.000 ekor per unitnya. Untuk memenuhi membangun kandang close house beserta fasilitas penunjang secara kasar biaya untuk membangun kandang tersebut tidak kurang dari Rp. 50.000,- per ekornya. Bila angka ini dikalikan dengan populasi per kandang yang 36.000 ekor atau 54.000 ekor, maka akan didapat angka Rp. 1,8 milyar dan Rp. 2,7 milyar harga per unit kandang closed house.

Hasil dari analisa performance produktifitas ayam petelur di kandang closed house yang berada di Jawa Timur. Peternakan di bawah bimbingan perusahaan penyedia sarana produksi ternak. Analisa performance dilakukan dengan rentang umur 20 hingga 80 minggu berdasarkan tanggal DOC masuk saat pemeliharaan. Perbandingan performance dibandingkan dengan standar salah satu strain ayam komersial yang ada di Indonesia. Pullet  (ayam yang siap bertelur) berasal dari salah satu perusahaan penyedia bibit ayam siap telur yang ada di Pulau Jawa yang dibawa ke kandang pada umur 16 minggu. Pakan menggunakan pakan komplit sesuai dengan kebutuhan nutrisi tiap fase umurnya sejak fase grower, early production, peak production dan end production. Pakan tersebut telah dirancang sesuai dengan tipikal ayam petelur di daerah tropis dengan prinsip cafetaria feeding. Pemberian pakan bukan ad-libitum (sepuasnya) melainkan dibatasi sesuai dengan petunjuk dari strain komersial yang maksimal hanya 115 hingga 117 gr/ekor/hari. Pemberian air minum dilakukan secara ad-libitum menggunakan nipple dan saat re-vaksinasi ND dan IB menggunakan paralon di bawah nipple. Secara kumulatif, tiap ekor ayam tersebut mampu berproduksi telur sebanyak 336 butir setara dengan 21,3 kg telur dengan konsumsi pakan 47,2 kg, dan kematian 3,57% (umur 20-80 minggu). Padahal standarnya adalah 350 butir setara dengan 22,1 kg telur dengan konsumsi pakan 47,4 kg , dan kematian 6,8% (umur 20-80 minggu).

                Sehingga FCR (Feed Covertion Ransum) kumulatifnya adalah 2,21 dari standarnya 2,14. Bahkan produksi telur mencapai 336 butir setara dg 21,3 kg telur merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa mengingat itu terjadi pada populasi sebanyak 15.000 ekor. Tingginya produktifitas ini akibat rendahnya tingkat kematian dan stabilitas produksi yang baik. Rendahnya kematian dan stabilnya produktifitas ini akibat kondisi microclimate dari kandang closed house yang mendekati comfort zone bagi ayam. Tingginya produktifitas dan rendahnya FCR ayam petelur di kandang closed house otomatis menekan biaya produksi per kg telur. Rendahnya biaya produksi telur akan melindungi dari ketidakstabilan harga jual telur yang sering terjadi. Tingginya investasi dan operasioanl listrik kandang closed house mendapat kompensasi dari tingginya produktifitas ayam. Bila menggunakan prinsip studi kelayakan proyek, maka kandang closed house ayam petelur adalah pilihan yang tepat.  Tingginya investasi awal kandang closed house sebetulnya berkontribusi kecil pada per unit telur yang dihasilkan karena umur pakai kandang yang sangat panjang. Jangan sampai mahalnya investasi menutupi potensi profit yang sangat mungkin akan raih di masa depan. Bicara untung dan rugi pada closed house ayam petelur sebaiknya menggunakan prinsip studi kelayakan proyek dengan melibatkan variabel-variabel di dalamnya (NPV, BCR, IRR, Pay Back Period). Dengan prinsip tersebut studi kelayakan proyek maka closed house ayam petelur akan feasible (mungkin) dalam sudut pandang perbankan sebagai sebuah aktivitas investasi yang menguntungkan. (Sofyan, http://unggasindonesia.wordpress.com/)

Produk pertanian yang menunjang industri perunggasan di Indonesia, yaitu bahan baku pakan seperti jagung dan bungkil kedele dari negara-negara pemasok seperti USA, Argentina, Brazil, Peru, Chili, dan negara lainnya, masih tetap cukup dan aman untuk diimpor ke Indonesia. Demikian pula halnya dengan Grand Parent Stock (GPS) dan Parent Stock (PS). Diharapkan pada tahun-tahun ke depan nanti, negara-negara bersangkutan tetap stabil dari segi politik dan keamanan, sehingga tidak mengganggu kegiatan impor dan ekspor bahan baku pakan dan bibit. Namun, satu hal yang perlu diingat adalah bahwa peningkatan produksi tetap tidak dapat berjalan mulus. Banyak hal yang perlu diwaspadai di samping peran aspek ekonomi, politik dan keamanan tadi, salah satunya keberadaan mikroorganisme yang dapat menimbulkan penyakit pada ternak. Indonesia merupakan negara tropis dengan suhu dan kelembaban yang diduga dapat mendukung pertumbuhan berbagai macam mikroorganisme, apakah yang bersifat patogen ataupun yang non patogen. Kehadiran mikroorganisme ini jelas dapat mengganggu pertumbuhan ternak yang dipelihara, bahkan kehadirannya dapat menimbulkan kematian bila tak tertangani dengan baik.

Menurut Prof. Drh. Charles Rangga Tabbu MSc PhD, mikroorganisme dapat tumbuh di bagian manapun di lokasi peternakan. Mulai dari lantai kandang, celah-celah lantai kandang, di permukaan tempat makan dan tempat minum, bagian parsial atau permukaan bahan-bahan bangunan kandang ataupun dari anak kandang yang menangani atau yang menjadi operator kandang selama proses produksi. Mikroorganisme masuk dan keluar dari lokasi peternakan tanpa dapat diketahui oleh peternak. Indikasi awal yang dapat dijadikan dasar bahwa kandang telah terpapar mikroorganisme adalah munculnya tanda-tanda penyakit, baik gejala umum maupun tanda-tanda khusus yang mencirikan kepada jenis peyakit tertentu. Penyakit yang sering muncul di usaha peternakan adalah dari kelompok penyakit viral seperti ND, Gumboro dan penyakit viral lainnya. Namun penyakit lain misalnya penyakit bakteri, parasit dan jamur juga tetap menjadi perhatian utama. Hal ini mengingat kondisi wilayah Indonesia dengan dua musimnya, yakni musim hujan dan musim kemarau atau pada saat peralihan kedua musim tersebut. Sejauh ini, peran penyakit bakteri, parasit dan jamur masih dipandang strategis dalam mengurangi nilai akhir berupa laba atau untung dari usaha peternakan. Untuk menekan kerugian yang disebabkan oleh mikroorganisme tersebut maka diperlukan kewaspadaan peternak terkait masuknya bibit penyakit ke lokasi usaha peternakannya. Bila dipelajari rentetan kasus penyakit ayam pada tahun 2009 sampai tahun 2010, kasus terbesar pada ayam petelur masih seputar penyakit korisa, ND dan kolera. Ketiga penyakit ini menurut Prof. Charles menduduki posisi tiga besar dalam menimbulkan kerugian pada peternak ayam petelur.

Sementara itu, untuk penyakit AI, peternak tetap diminta waspada melalui penerapan tatalaksana pemeliharaan maupun pelaksanaan vaksinasi secara tepat, baik tepat waktunya maupun tepat dosisnya. Selain itu, peternak jangan sampai mengesampingkan pelaksanaan program biosekuriti secara ketat dan menyeluruh di lokasi usaha peternakannya. Perhatian peternak sebaiknya bukan tertuju semata pada kasus penyakit AI, namun untuk kasus penyakit lainnya, penanganan yang menyeluruh hendaknya juga diterapkan.

Populasi ayam petelur di Indonesia dapat dipantau  adalah dengan cara melakukan kontrol terhadap jumlah ayam berumur sehari (DOC) yang dipasok oleh perusahaan. Berdasarkan berbagai sumber seperti Majalah Poultry Indonesia dan Direktorat Pembibitan Ditjennak semua strain komersial tersebut angka produksi DOC mencapai 1,7 juta ekor/minggu. Setelah  dikurangi 10% kematian dapat diperkirakan jumlah ayam petelur di Indonesia adalah 122,4 juta ekor ayam petelur umur 1-80 minggu. Dari 122,4 juta ekor tersebut 80% diantaranya merupakan ayam dalam masa produktif yaitu sebanyak 91.8 juta ekor. Tiap ekor ayam petelur diperkirakan mampu bertelur sebanyak 300 butir setara dengan 19 kg dalam rentang waktu 1 tahun atau 365 hari. Jadi total produksi telur adalah 91,8 juta ekor ayam petelur dikalikan 300 butir/ekor/tahun  adalah 27.540 juta butir atau 27,54 milyar butir telur atau setara dengan 91,8 juta ekor ayam petelur dikalikan 19 kg telur/ekor = 1.744,2 juta kg telur alias 1,74 milyar kg telur dalam setahun.

Populasi penduduk Indonesia adalah sekitar 241 juta jiwa dan apabila diasumsikan setiap penduduk di Indonesia mengkonsumsi telur maka produksi 27.540 juta butir telur dibagi dengan 241 juta penduduk Indonesia didapat angka 114 butir  telur/kapita/tahun. Produksi 1.744,2 juta kg telur dibagi 241 juta penduduk Indonesia didapat angka 7,4 kg telur/kapita/tahun. 1,74 milyar kg telur Indonesia naik dari 0,89 milyar kg telur (1,5% dari produksi telur dunia yang mencapai 59,2 milyar kg) pada tahun 2005 (Total produksi telur dunia 59,2 milyar kg dan 60% nya diproduksi dari Asia (China 41, 1%, India 4,2%, Jepang 4,2% dan Indonesia hanya 1,5%). (http://www.incredibleegg.org/kids-and-family/holiday-and-special-occassions/world-egg-day/global-egg-statistics).

Penduduk Indonesia merupakan keempat terbesar setelah China, Amerika Serikat dan India, tetapi produksi telurnya bukan keempat terbesar di dunia. Idealnya, 1 ekor ayam petelur sama dengan 1 jiwa populasi penduduk. Artinya Indonesia harusnya memiliki ayam petelur sebanyak minimal 241 juta ekor, dan saat ini masih 91,8 juta ekor. Butuh double populasi untuk menyamai populasi ayam petelur dengan populasi penduduk Indonesia. Di sinilah peluang bisnis masih terbuka 59,2 milyar kg telur adalalah produksi dunia tahun 2005, dan target tahun 2030 adalah 89 milyar kg telur.

Target produksi telur nasional tahun ini suatu saat sangat mungkin bisa tercapai. Apalagi, populasi ternak unggas terus meningkat. Kenaikan produksi telur ini karena ada kenaikan populasi ayam petelur. Kenaikan populasi ternak unggas ini juga akan berimbas pada kenaikan konsumsi pakan ternak. Padahal, sejak tahun lalu harga pakan ternak mengikuti kenaikan harga bahan baku ternak seperti jagung dan bungkil kedelai yang memang naik akibat pasokan terbatas. Sementara itu, tahun ini harga pakan ternak sepertinya tidak ada tanda penurunan. Bahkan, kenaikan harga pakan nampaknya akan terus berlanjut karena per 22 Desember 2010 lalu Kementerian Keuangan memberlakukan bea masuk bahan baku pakan ternak sebesar 5%. Aturan ini tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 241 tahun 2010.

Perusahaan Utama Industri Peternakan di Indonesia

 PT. Charoen Popkhand Indonesia Tbk.

PT. Charoen Popkhand Indonesia Tbk (CPI) didirikan pada tahun 1972 dan bergerak dalam industri pakan ternak, peternakan dan pengolahan daging ayam. Perusahaan merupakan PMA (Penanaman Modal Asing) dengan pemegang saham terdiri dari PT. Central Proteinaprima, Royal Bank of Canada (Asia) Ltd., UBS AG Singapura dan publik. Saat ini CPI memiliki kapasitas produksi pakan ternak dari unit-unit pabriknya yang tersebar di Mojokerto, Jakarta dan Medan sebesar 2,6 juta ton per tahun. CPI memiliki 8 pabrik pakan ternak yang tersebar di Medan, Bandar Lampung, Ancol (Jakarta), Balaraja, Semarang, Krian (Sidoarjo), Sepanjang (Sidoarjo), dan Makassar. CPI juga memiliki empat pabrik pengolahan daging (Rumah Potong Ayam), yakni di Cikande, Salatiga, Medan dan Surabaya. Rencananya akan bangun lagi satu unit di Bandung.

Hingga saat ini total kapasitas produksi pakan ternak CPI sekitar 4 juta ton/tahun, yang diproduksi dari 7 pabrik. Total kapasitas produksi DOC sekitar 607 juta ekor per tahun. Adapun total kapasitas produksi ayam potong 105 ribu ton/tahun. Pangsa pasar CPI di pasar modern diklaim 72% dan di pasar tradisional 91%. PT Charoen Phokphand membangun industri pembibitan Daily Old Chicken (DOC) -bibit ayam umur harian- dengan investasi senilai Rp 75 miliar lebih. 

PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk.

Japfa Comfeed (JC) berdiri pada 1971 dan bergerak dalam bidang industri pakan ternak. Saat ini pemegang saham JC terdiri dari Pacific Focus Enterprises, Ltd. (28,94%), JP Morgan Chase Bank (9,65%), Coutts Bank Von Ernst, Ltd. (9,15%), Rangi Management Ltd. (8,57%), BNP Paribas Private Bank Singapore (6,63%) dan publik dengan kepemilikan masing-masing kurang dari lima persen sebanyak (37,06%).

JC adalah salah satu perusahaan agrobisnis terintegrasi di Indonesia, saat ini  industri pakan ternak memiliki total kapasitas produksi 1,73 juta ton per tahun. Sementara itu, peternakan bibit ayam yang dikelola oleh anak perusahaan, PT. Multibreeder Adirama Tbk, usaha aquakultur yang dikelola anak perusahaan, PT. Suri Tani Pemuka. Lokasi pabrik pakan ternak dan peternakan tersebar di Lampung, Cirebon (Jawa Barat), Sidoarjo (Jawa Timur) dan Tangerang.

PT. Cheil Jedang Feed Indonesia 

CJ Feed Indonesia merupakan anak perusahaan Cheil Jedang dari Korea Selatan yang mulai berbisnis di Indonesia pada 1989. CJFI mengoperasikan 2 perusahaan pakan (feedmill) yaitu  PT. CJ Superfeed yang berdiri pada 1996 dan PT. CJ Feed Jombang yang berdiri pada 2004. Pabrik pakan ternak ini masing-masing berlokasi di Serang, Banten dan Jombang, Jawa Timur dengan total kapasitas produksi 750.000 ton per tahun. Pakan ternak yang diproduksi CJ Feed terdiri dari pakan broiler, layer, breeder, babi, puyuh, konsentrat dan udang. untuk melayani permintaan pelanggan yang berada di wilayah Jawa Barat, Jabodetabek, Sumatera dan Kalimantan. Produk pakan ternak yang diproduksi CJS menggunakan merk Superfeed. 

PT. Super Unggas jaya 

Pada 1997 PT. Cheil Jedang Feed Indonesia yang bergerak dalam industri pakan ternak ayam yang diproduksi menggunakan merk Superfeed, mendirikan PT. Super Unggas Jaya (PT. SUJ). PT. SUJ  bergerak dalam industri peternakan yang memproduksi DOC dengan kapasitas. 20 juta ekor per tahun. Peternakan ini berlokasi di Tutur, Jawa Timur. Produk DOC ini menggunakan merk Superchicks. SUJ melakukan ekspansi dengan membangun lagi 9 unit peternakan ayam di berbagai daerah termasuk Jawa Barat dan Kalimantan Timur. Sehingga kini total produksi DOCnya mencapai 54 juta ekor per tahun.  

PT. Malindo Feedmill

Pada awalnya bernama PT. Gymtech Feedmill Indonesia yang berdiri sejak 1998, kemudian nama perusahaan berubah menjadi Malindo Feedmill.  Malindo merupakan salah satu perusahaan milik keluarga Lau dari Malaysia yang memperoleh pengarahan teknis perternakan ayam dan pakan ternak dari perusahaan teratas di negara itu yaitu Leong Hup Holding Berhard dan Emivest Bhd. Leong Hup Holding memiliki pangsa pasar mencapai 30% untuk industri DOC di Malaysia. Sedangkan Emivest berpengalaman sebagai perusahaan pakan ternak selama 15 tahun.

PT. Malindo Feedmill Tbk akan membelanjakan Rp100 miliar untuk pembangunan pabrik pakan ternak sekaligus menjajaki akuisisi perusahaan peternakan ayam pada tahun ini. Saat ini perseroan sedang memproses pembangunan pabrik pakan ternak di lahan seluas 5,4 ha di kawasan industri modern Cikande, Serang, Banten. Biaya pembangunan pabrik ini diperkirakan akan memerlukan waktu sekitar satu tahun dan membutuhkan biaya sebesar Rp100 miliar. Kapasitas pabrik pakan ternak baru ini kapasitasnya sebesar 30.000 ton per bulan atau 360.000 ton per tahun, dan perseroan akan menambah kapasitas pabrik yang sudah ada saat ini menjadi 450.000 ton per tahun. Sementara itu, Komisaris Malindo Tan Lai Kai menargetkan pertumbuhan perseroan sebesar 10% - 15% pada tahun ini mengingat kondisi ekonomi yang membaik dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,4% terbesar ketiga dunia setelah China dan India.

PT. Sierad Produce Tbk

Sierad Produce didirikan pada 1985 dengan nama PT. Betara Darma Ekspor Impor, merupakan hasil penggabungan dari empat perusahaan pada tahun 2001, yaitu PT Anwar Sierad Tbk, PT. Sierad Produce Tbk, PT. Sierad Feedmill dan PT. Sierad Grains. Sierad Produce (SP) berdiri pada 1985 dan bergerak dalam bidang peternakan ayam bibit induk untuk menghasilkan ayam niaga, pemotongan ayam dan pengolahan ayam terpadu dengan cold storage. Selain itu SP juga bergerak dalam industri pakan ternak,  industri pengeringan jagung dan industri obata-obatan dan vitamin hewan. Peternakan dan pabrik pengolahan tersebar di Tangerang, Bogor, Sukabumi, Lampung dan Sidoarjo. Saat ini SP merupakan salah satu produsen pakan ternak terbesar di Asia Tenggara.

Perusahaan yang berawal dari penjual telur eceran di pasar Jatinegara, Jakarta Timur. Kemudian berkembang membangun Rumah Potong Ayam yang terletak di jabaon, Jawa Barat ini merupakan yang terbesar di Indonesia, yang memiliki kapasitas produksi 8.000 ekor per jam. Produk olahan ayam yang dihasilkan dikemas dengan merk Delfarm,  yang tersedia di berbagai supermarket besar di Indonesia. 

Tahun 2008 ini SP membangun tiga pabrik baru di Magelang, Jawa Tengah yang akan selesai pada awal 2009. Dengan tambahan pabrik baru tersebut SP peningkatan produksi ayam ternak sebesar 420 ribu per minggu menjadi 2.000.000 per minggu. Sementara ayam petelur diharapkan bisa mencapai 300 ribu per pekan. Saat ini, pangsa pasar SP tercatar sebesar 7% untuk peternakan ayam berusia sehari (DOC) dan 7% untuk pasar pakan ternak. Sementara itu, pada 2007 SP behasil membukukan pendapatan sebesar Rp 1,2 triliun dan laba bersih Rp 27,5 miliar. 

Pada pertengahan 2008  SP mendapat pinjaman sebesar Rp 310 miliar dari BNI untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Dana tersebut akan digunakan untuk menambah kapasitas produksi Day Old Chick (DOC/anak ayam) sebanyak 565 ribu ekor per minggu. Saat ini kapasitas produksi DOC sekitar 1,6 juta ekor per minggu.

Bisnis utama SP adalah produksi pakan ternak dan DOC. Tahun 2008, porsi pakan ternak terhadap penjualan SP sebesar 54,1%, sedangkan DOC 44%. Tahun 2008, SIPD memproduksi pakan ternak sebanyak 400 ribu ton, tumbuh 25% dari tahun lalu. Untuk DOC, pertumbuhannya ditargetkan sekitar 18% atau di atas 100 juta ekor.

             Analisis Strategi (Analisis SWOT)

Analisis strategis dilakukan untuk mengetahui strategi yang akan dipakai oleh praktisi usaha peternakan ayam ras petelur. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan mengidentifikasi kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunities) dan ancaman (threat) yang dapat terjadi dalam usaha peternakan ayam ras petelur tersebut.

Kekuatan (Strength)

Dua lingkungan yang dihadapi oleh perusahaan mencakup lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Lingkungan internal terdiri atas faktor kekuatan dan kelemahan. Beberapa faktor yang menjadi kekuatan pengembangan usaha ternak ayam ras petelur, sebagai berikut.

1.    Sistem agribisnis peternakan yang sudah baik, artinya usaha peternakan tidak hanya berada pada tingkat budidaya, tetapi juga adanya industri hulu sebagai penyedia sarana produksi. Dengan demikian telah terdapat dukungan sarana produksi yang tersedia setiap saat, sehingga tidak ada masalah mengenai penyediaan sarana produksi untuk usaha peternakan ayam ras.

2.    Teknologi budidaya ayam ras yang mudah dikuasai oleh masyarakat.

3.    Sistem pemasaran tidak menjadi permasalahan, karena telah terbentuk jalur-jalur distribusi sampai ke berbagai lapisan dan pelosok wilayah.

4.    Adanya dukungan sumberdaya lahan yang luas dan jumlah tenaga kerja tersedia merupakan kekuatan pegembangan ayam ras petelur secara nasional.

5.    Semakin berkembangnya pabrik makanan ternak siap pakai dan obat-obatan yang semakin tersebar di berbagai provinsi.

6.    semakin berkembangnya industri pembibitan ayam berupa ayam-ayam parentstock atau grand parent stock di negara kita, yang memproduksi DOC tingkatan final stock guna menyuplai para peternak.

Kelemahan (Weakness)

Beberapa faktor yang menjadi kelemahan dalam usahaternak ayam ras petelur adalah sebagai berikut.

1.    Usaha peternakan ayam ras petelur seringkali dihadapkan pada harga input produksi tinggi, sedangkan harga output produksi yang rendah. Kondisi marjin yang semakin rendah (rasio harga 1 kg telur dengan 1 kg pakan sama dengan 2,5-3 : 1, dibandingkan dengan tahun 80-an dapat mencapai 4-5 : 1), oleh karena rasio harga telur dengan harga pakan yang semakin tinggi.

2.  Adanya risiko dan kondisi ketidakpastian yang relatif tinggi baik dari aspek teknis maupun finansial karena produksi sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan sementara keuntungan sangat sensitif terhadap perubahan harga.

3.   Adanya permintaan konsumen yang fluktuatif dari hari ke hari karena telur termasuk bahan makanan yang subtitutif.

4.   Sifat telur yang merupakan produk yang sifatnya perishable (mudah rusak), sehingga harus dapat dijual atau dikonsumsi segera.

5.  Pada umumnya kualitas produk belum mencapai standar internasional, sehingga kemampuan untuk ekspor sangat lemah.

Peluang (Opportunities)

Lingkungan eksternal yang dihadapi perusahaan berupa peluang dan ancaman. Faktor peluang ini meliputi sebagai berikut.

1.   Dukungan pemerintah terhadap usaha peternakan ayam ras yang mempunyai andil besar dalam pemenuhan protein hewani masyarakat dan usaha peternakan dipandang sebagai usaha potensial bagi peningkatan pendapatan masyarakat. Dukungan pemerintah ini diwujudkan dalam bentuk deregulasi peternakan.

2.    Kondisi ekonomi makro Indonesia yang mulai membaik. Dengan adanya pergantian kabinet yang fokus pada perbaikan ekonomi memberikan harapan bagi kepastian usaha dan investasi di dalam negeri.

3.  Terdapat kecenderungan selera masyarakat yang semakin menyukai telur ayam ras dari lapisan perkotaan hingga masyarakat pedesaan.

4.  Meskipun permintaan masyarakat terhadap telur ayam ras fluktuatif, tetapi pada saat-saat tertentu permintaan masyarakat terhadap telur ayam ras sangat tinggi, misalnya untuk keperluan hajatan, hari-hari besar dan sebagainya.

5.  Terdapat kecenderungan permintaan telur ayam ras akan selalu ada setiap saat, karena potensi pasar telur ayam ras cukup besar dalam peranannya sebagai bahan baku pembuatan makanan ringan (roti, kue, martabak, dan lain-lain). Potensi pasar ayam ras semakin tinggi, karena sebagai bahan baku untuk industri makanan ringan.

6.    Peluang ekspor telur ayam ras kemungkinan akan dapat meningkat, karena beberapa negara mengalami stagnasi khususnya Amerika Serikat yang sedang mengalami krisis internal.

Ancaman (Threat)

Beberapa faktor ancaman yang perlu diantisipasi dalam usahaternak ayam ras petelur adalah, sebagai berikut.

1.    Persaingan negara tetangga khususnya Thailand atau Malaysia yang dapat berproduksi dengan biaya lebih murah dengan perkembangan teknologi yang lebih efisien, karena adanya dukungan pemerintah secara aktif.

2.    Kondisi keamaman dalam negeri yang masih rawan menyebabkan ancaman penjarahan dari kelompok masyarakat tertentu masih tinggi.

3.    Teknologi yang belum sepenuhnya dapat menciptakan produk bebas residu antibiotik dapat menghambat pemasaran di pasar global, karena dalam WTO diterapkan persyaratan yang ketat dalam hal kesehatan terhadap konsumen.

4.    Ancaman perdagangan bebas yang tidak diberlakukannya lagi hambatan tarif untuk bea masuk produk luar negeri dan semakin berkurangnya peranan pemerintah dalam intervensi perdagangan. Hal ini perlu diwaspadai dengan membanjirnya produk-produk luar negeri yang cenderung over supply, sehingga akan mengganggu kestabilan harga di dalam negeri.

Strategi Bisnis

Langkah selanjutnya untuk merumuskan strategi adalah mengkombinasikan analisis faktor internal dan eksternal dalam analisis SWOT. Analisis SWOT merupakan kombinasi strategi yang dapat dipilih oleh perusahaan dalam menjalankan usahanya, sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.

Usaha peternakan ayam ras petelur akan berhasil apabila dilakukan dengan strategi-strategi berikut ini.

1.    Margin yang tipis dan sifatnya sangat sensitif terhadap perubahan harga harus diimbangi dengan sistem produksi yang sangat efisien. Dukungan pemerintah diperlukan dalam membuat kebijakan yang memihak industri ayam khususnya yang ditangani masyarakat kecil, misalnya dalam hal pembebasan PPN dan pajak baik dalam hal input produksi (pakan, bibit, obat-obatan dan peralatan) maupun hasil produksi.

2.    Sifat permintaan ayam ras masih cenderung berfluktuasi sehingga perencanaan usaha dengan pertimbangan faktor waktu.

3.    Karakteristik produk ayam ras petelur bersifat perishable (mudah rusak) sehingga diperlukan perencanaan usaha yang sangat cermat dan teliti dan dukungan teknologi penyimpanan.

4.    Bagi pengusaha mandiri harus dapat menjalin kerjasama dengan perusahaan besar yang biasanya menguasai sarana produksi yang berwawasan lingkungan.

5.    Pengembangan peternakan skala besar perlu dilakukan dengan melibatkan masyarakat setempat untuk menghindari masalah sosial yang mungkin terjadi di masyarakat.

6.    Membangun sistem agribisnis peternakan yang secara terintegrasi dari hulu sampai hilir dan membangun jaringan distribusi yang mantap serta meningkatkan kualitas produk untuk menghadapi ancaman perdagangan bebas.


                       Starain Ayam Petelur di Indonesia

Ada beberapa strain ayam yang kini banyak beredar atau pernah beredar di Indonesia, antara lain sebagai berikut ini:

  1. abor acres, diciptakan di Amerika 1972

  2. Dekalb WAren, Diciptakan di Amerika 1972

  3. Hyline, diciptakan di Amerika 1972

  4. Hubbard golden comet, diciptakan di Amerika 1972

  5. Kimber Brown, diciptakan di California Amerika 1972

  6. Harco, diciptakan di Amerika 1972

  7. Shaver, diciptakan di kanada

  8. Hisex, diciptakan di Belanda 1972

  9. Hypeco, diciptakan di Belanda 1972             

10. Rosella, diciptakan di negeri belanda                   

11. Isa Brown, diciptakan di Inggris 1972

12. Ross Brown, diciptakan di Inggris 1972

13. Lohman, diciptakan di jerman 1972

14. Enya, diciptakan di jepang


          Masing-masing diciptakan oleh Breeder dan diprogramkan untuk memenuhi keunggulan standar yang diinginkan para konsumen. Keungguilan tersebut meliputi:

1.  Produktivitas dan bobot telur tinggi.

2.  Konversi makanan rendah

3.  Kekebalan dan daya hidup tinggi, serta pertumbuhan yang baik.

4.  Masa bertelur yang panjang (long lay)

 

Walaupun para breeder telah berusaha memprogramkan untuk dapat memenuhi semua keunggulan diatas, namun masing-masing strain ternyata tetap memiliki keterbatasan, sehingga tidak mungkin seluruh kriteria keunggulan tersebut dapat dicapai oleh semua strain. Akan tetapi, para breeder dalam mendistribusikan produknya yang berupa DOC, biasanya selalu menyertakan juga data-data keunggulan tiap produknya. Data yang disertakan biassanya mengenai produktivitas, konversi pakan, daya hidup, bobot telur dan lain sebagainya.


           Data-data

 Data populasi ayam petelur di Indonesia (dalam Jutaan ekor)

Ternak

2007

2008

2009

2010 *)

Ayam Petelur

111489

107955

111418

116188

*Angka sementara

 

Data produksi telur di Indonesia (dalam jutaan butir)

Telur

2007

2008

2009

Ayam Buras

230.5

166.6

160.9

Ayam Petelur

944.1

956

909.5

Itik

207.5

201

236.4

 Sumber : Statistika Peternakan 2010

0 comments:

Post a Comment